Selamat Datang

Senin, 24 Januari 2011

Layang-Layang dan Pesawat

Hits:


Sebagaimana halnya anak kampung pada masanya, aku pun suka bermain layang-layang bersama teman-temanku sewaktu kecil. Berlari-larian di sawah yang hijau luas membentang. Ah, begitu indahnya masa itu. Sesekali layang-layangku tertabrak oleh kawanan burung bangau sawah yang beterbangan. Aku memang tidak begitu pandai menerbangkan layang-layang, maklum frekuensi bermainku tidaklah sebanyak teman-teman seusiaku waktu itu. Tapi ada satu pemahaman yang menarik,

"Setinggi apapun layang-layang terbang, ia tetap perlu dikendalikan oleh kekuatan yang ada di bawah." Ya, sang pengendali layang-layang tersebut.

Satu lagi kebiasaan yang boleh dikatakan kampungan, ya memang itulah kebiasaan anak gunung dan anak kampung. Jika ada pesawat yang kebetulan terbang walaupun sangat tinggi (maklum daerah kami jauh dari bandara), spontan kami akan berlarian mengejarnya, sambil berteriak-teriak, "Pesawat-pesawat! Minta duitnya!" Tentunya dengan bahasa daerah kamilah rasanya tidak perlu disebutkan. Sampai suatu saat aku berpikir, "Sekencang apapun kita berlari mengejar, itu hanyalah sia-sia belaka, pesawat itu tidak akan memberikan apa yang kita inginkan." Tapi, memang berbeda dengan layang-layang,

"Pesawat mampu terbang tinggi, tapi ia tidak dikendalikan oleh kekuatan di bawah, ia mengendalikan dirinya dari atas oleh pilot."

Ada 2 hal yang menarik sobat,

1) Sekencang apapun kita berlari, kita takkan sanggup menjangkau pesawat, apalagi mengharap keuntungan darinya. Kata si Mbah, untuk mencapai cita-cita yang tinggi tidak hanya diperlukan kerja keras, tapi diperlukan juga langkah cerdas, ketekunan, kedisiplinan, semangat, kemampuan untuk belajar, kerja sama. Oleh karena itu,

"Janganlah engaku seperti mereka bila ingin menggapai pesawat, berlari-lari atau hal sia-sia apapun, tapi belajarlah, siapkan harimu esok, engkau akan terbang tinggi bersama pesawatmu."

2) Setinggi apapun layang-layang terbang, ia tetap perlu dikendalikan oleh kekuatan yang ada di bawah. Lagi-lagi pesan si Mbah, semestinya orang-orang 'tinggi', orang-orang yang berjiwa mulia itu tidaklah dikendalikan oleh kepentingan-kepentingan yang sifatnya rendah, ia mampu terbang tinggi menjulang dengan pengendalian diri dan kebijaksanaan untuk terus membawa manfaat bagi tiap orang. Ya, layaknya pesawat yang terbang membawa penumpang sampai ke suatu tujuan. Maka, berlatihlah menjadi orang yang mulia. Tidak harus tinggi, atau jika engkau musti mendudukinya, maka berlatihlah mengendalikan diri, belajar dari hikmah kebijaksanaan, hingga kiranya nanti orang menyoroti, memerhatikanmu itu karena kebesaran jiwa dan kebijaksanaanmu.

Bisakah anda seperti itu sobat?